Kehancuran yang Memukau
Banyak dari kita kerap menyembunyikan diri ketika mengalami luka mau pun duka. Tak jarang topeng pun ikut kita kenakan jika harus melakukan interaksi sosial. Ada sepasang mata atau lebih yang melihat bagaimana rentannya diri kita saat kita berada di posisi tersebut, untuk itu lah banyak dari kita yang mengenakan topeng. Tapi pantaskah demikian?
Hal-hal yang kita lalui pada dasarnya merupakan bentuk konsekuensi dari setiap pilihan yang kita ambil, dan hal-hal itu lah yang membentuk diri kita saat ini, bahkan luka dan duka yang sedang dialami. Tetapi kembali lagi, pilihan apa yang kita ambil saat itu? Mengenakan topeng, menjalani biasa saja, menyembunyikan diri, atau beraktivitas maksimal?
Ada yang mengatakan diri mereka dapat melakukan yang terbaik saat mereka terluka atau lebih jelasnya adalah saat sedang berada di bawah (under pressure). Apakah kalian demikian? Hal ini juga dialami oleh salah satu filsuf hebat yaitu Friedrich Nietzsche dimana di masa akhir hidupnya saat dilanda penyakit yang menyebabkan ia terpaksa terbaring di ranjang cukup lama (beberapa tahun), ia menghasilkan karyanya yang hebat!!!
Hal ini di-breakdown oleh Carl Jung dan saya kutip dari buku karangan Murray Stein yang membahas tentang karya-karya Carl Jung, dikatakan energi psike itu sama dengan energi pada umumnya dan ikut mengalami hukum kekekalan energi. Energi tidak dapat dimusnahkan namun dapat diubah ke arah yang lain. Saat Nietzsche mengalami sakit ia menerima energi yang besar dari sakitnya tersebut, meski dilanda musibah tersebut, ia berusaha mengubah hal tersebut menjadi sebuah dorongan kuat untuk melakukan sesuatu.
Cukup membahas teori, ini tak sepertu tulisanku, aku ingin kita mencari pembenaran seperti biasanya. Apa kalian merasa terluka? terkhianati? Mimpi kalian hancur? Kehilangan arah? Maka, aku akan mengatakan SELAMAT! Kalian sedang berada pada satu titik abu-abu diantara hitam dan putih kehidupan, sekarang pilihan apa yang akan kalian pilih? Bangkit kembali atau tetap berdiam pada titik tersebut karena itu adalah titik ternyaman dalam hidup.
Titik abu adalah titik tengah yang tak merepotkan kita untuk menjadi putih atau hitam, tetapi itu juga warna dan itu indah. Tapi apa pantas semua menjadi abu-abu begitu saja? Bukankah sebuah karya yang indah itu terdari warna dan makna? Lalu apa arti abu-abu tanpa makna? Kenyamanan yang membutakan, membuat diri tak acuh dengan sekitar hingga perlahan kita pun menjadi tak acuh pada diri kita sendiri, bahkan mimpi-mimpi yang ingin kita gapai sebelumnya.
Kalian pantas bersedih, kalian pantas rehat dari apa yang sedang lakukan, semua orang boleh mengekspresikan kekacauan yang dialami. Itu tidak salah, hanya saja coba tanya ke dalam diri kalian siapa diri kalian yang sebenarnya dan ingin menjadi apa kalian? Pantaskah untuk tergenang berlama-lama? Sudah cukup menjadi orang lain! Kenal dirimu dan jadi lah seperti yang kamu HARUSKAN! Gunakan energi kehancuranmu dengan cara memukau, hidup bukan drama dimana kamu bisa bersedih lalu ada ibu peri yang hadir dan memberikanmu sepatu kaca untuk dipecahkan dan menyakiti dirimu sendiri dengan serpihannya!
Komentar
Posting Komentar