Luka yang Tak Pernah Sembuh



Sepi, tak peduli seberapa jauh langkah ini telah melangkah. Ia kerap kembali hadir sebagai tamu yang sangat sopan masuk ke dalam rumah dan menanti untuk disajikan secangkir kopi atau pun teh. Ia kerap hadir kembali meski telah banyak wajah yang kutemui selama aku melangkah. Tak peduli sebanyak apa hubungan yang kujalin bersama orang lain, ia kembali hadir.


Meski kini ia hadir sedikit berbeda, terlihat ada sesuatu yang berbeda dari tampilannya. Mungkin ia mengenakan sebuah masalah baru yang mengikutinya. Tapi ia tetap mengenakan rasa takut yang selalu setia menyelimuti punggung yang tak lagi tegap itu. Bersama waktu ia hadir tanpa ada yang mengundang.

Aku ingat awal pertemuanku dengannya, saat itu cuaca sangat cerah. Kuputuskan untuk membeli sebuah bir di toko terdekat untuk menemani suasana cerah tersebut dari lantai 4. Dalam perjalanan aku merasakan sesuatu yang sediki mengganjal, tapi aku tak bisa menjelaskan perasaan apa itu. Kutambahkan sebungkus rokok pada keranjang belanjaku, aku sedikit merindukan rasa sebatang rokok saat itu. Tampak heran wajah penjaga toko, siang bolong dengan cuaca yang teramat cerah, seseorang membeli sebotol bir. Setibaku di lantai 4, kutelanjangi kantong belanjaku yang telah kutenteng sepanjang perjalanan dari toko tadi.

Kunikmati tiap teguk birku, sungguh terasa nikmat sembari memandangi persawahan hijau. Aku membakar rokok yang telah kurindukan sejak lama. Sebuah reuni yang terasa sangat nyaman meski singkat, ya sekiranya 9-15 menit sebelum kami berpisah kembali dan aromanya pergi bersama angin yang berhembus.

Ada rasa tak nyaman yang mulai memenuhi perasaanku, ini sebuah rasa yang bahkan diriku sendiri tak pernah merasakannya. Aku tak tahu harus berbuat apa sebab ini adalah sebuah rasa yang bahkan tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Lalu tiba-tiba ada yang mengetuk pintuku. Siapa yang bertamu siang bolong begini.

Tamu itu dengan wajah yang sangat ramah berkenalan denganku, ia menyebut dirinya sebagai 'Terkhianati'. Sungguh sopan, ia membawa buah tangan kepadaku, dibawakannya sekantung 'Patah Hati' untukku. Dengan ramah ia menaruh buah tangannya pada mejaku, lalu ia meneguk botol bir yang telah kuteguk terlebih dahulu. Tak hanya itu, ia juga membakar sebatang rokok dari bungkus rokok yang telah kukoyak tutup atasnya. Kini aku mulai merasa tamuku sungguh tak sopan, buah tangan yang diberikannya tak bisa menjadi alasan untuk bertindak seenaknya di tempatku.

Begitulah pertemuanku pertama kali dengannya, ia sempat berkata jika orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan lain. Panggilan beragam tergantung situasi dan kondisi. Kini ia kembali bertamu. Tapi aku tak siap, aku tak memiliki kopi atau pun teh lagi. Yang kumiliki hanyalah sebuah teko kosong yang tak pernah terisi kembali sejak pertemuanku dengannya, mungkin aku terlalu takut untuk mengisi teko itu, atau aku hanya takut ada tamu lain yang menghabisi minumanku lagi.

Komentar

Popular Posts

Mata Jiwa

Cappuccino tanpa Cincau