Harta-Tahta-Wanita




Pria tua itu berusaha berjalan, dengan alat bantu menuju tempat peristirahatan terakhir istrinya. Alat bantu berupa pijakan dengan 4 kaki. Alat bantu jalan untuk mereka yang telah menjalani roda kehidupan yang berat lebih dari 70 tahun. Bagaimana tidak berat? Setiap waktu yang bergulir di umur renta merupakan siksaan. Melihat atau mendengar kabar dari mereka-mereka yang pada mulanya menginjak tanah bersama kini kembali ke tanah lebih dahulu. 


Pria tua itu merasa payah. Semakin payah dan mendalam saat kedua matanya menatap makam istrinya. Gundukan tanah yang kini telah mengering, tanpa bunga, hanya doa. Tatapan pria tua itu cukup dalam, kembali ke masa di mana Ia masih menghabiskan hari tua bersama sang istri. Mungkin duduk berdua di teras rumah sembari mengingat pertemuan pertama, atau membayangkan tentang pertemuan terakhir. Kini menjadi kenyataan. Ingin duduk, hanya saja tak memungkinkan. Tak banyak waktu yang mampu ia berikan untuk berziarah. Karena umur, karena kondisi tubuh, hingga mental. Mungkin. 

Sedikit berat, ia berusaha beranjak dari makam istrinya. Kakinya terlihat lebih bergetar kini, lebih bergetar dari saat ia menuju makam istrinya. Penuh payah dan usaha ia melangkah. Tak tega, terlihat 2 pemuda menghampiri lelaki tua tersebut. Dengan perlahan mereka membantu si pria tua. Tertampang beribu tanda tanya pada wajah mereka. Mengapa pria tua serenta ini berjalan sendirian untuk berziarah? Di mana keluarganya? 

Pria tua itu terlihat emosi saat kedua pemuda tadi membantunya. Kini tangannya ikut bergetar menahan emosi yang hadir dalam benaknya. Bukan karena tak bersyukur, ia hanya teringat. Akan kisah muda yang penuh makna. Kisah tentang seorang pemuda yang berani menentang dosen akibat kecongakan sang dosen. Seorang pemuda yang membabat abis pohon karet sendirian. Pemuda yang cukup kekar untuk menggelegar dunia saat itu. Tapi kini untuk berjalan saja pemuda yang konon katanya kekar itu memerlukan 8 kaki tambahan. Betapa kejamnya waktu. Waktu berhasil merenggut segalanya, kegagahannya, kekekarannya, kehebatannya, hingga kekasihnya yang dicintai.

Bagaimana bisa seorang yang memiliki segalanya, kini tak memiliki apa-apa lagi. Hanya bisa meratapi sisa waktu yang dimiliki. Tanpa siapapun kini. Tanpa kawan untuk berkhayal tentang negeri di atas awan yang entah kapan akan disambangi. Kawan itu telah berangkat duluan, bukan karena tak setia, hanya saja roda telah berputar seperti ini.

Kedua pemuda itu ikut merasakan apa yang dirasakan oleh pria tua tersebut perlahan. Mata yang mulai berkaca-kaca, hidung yang mulai memerah. Tangan dan kaki semakin bergetar. Penuh harap ikut serta di sebelah makan kekasih tercinta. Hanya itu yang terbayang dibenak kedua pemuda itu. Mereka hanya belum merasakan apa yang dirasakan pria tua itu, lancang jika mereka mampu merasakan hal serupa. Tentang Harta-Tahta-Wanita yang telah dirampas. 

Komentar

Popular Posts

Mata Jiwa

Cappuccino tanpa Cincau