Pohon Manggis Menangis
Rudi anak yang ceria, meski anak satu-satunya. Rudi sangat suka menggambar. Saat guru menjelaskan pelajaran di kelas, Rudi lebih suka menggambar dengan teman sebangkunya. Menggambar bunga, gunung, sungai, sawah, atau bahkan terkadang semuanya dipadukan menjadi 2 gunung, 1 sungai, dan tentunya matahari yang menerangi. Tak heran ia dan teman sebangkunya si Sandi sering dimarahi guru. Pak Murni, guru mereka selalu heran melihat tingkah 2 bocah SMP itu. Baru menginjak kelas 1 SMP selama 4 Bulan tapi sudah dihukum sebanyak 6 Kali. Padahal anak seumuran mereka itu dimarahi 2 kali saja sudah kapok. Cukup geram melihat tingkah laku keduanya, Pak Murni melaporkan kelakuan Rudi pada Pak Gusti dan Bu Rusni, orang tua si Rudi.
Sesampainya di rumah, Rudi menerima hukuman dari kedua orang tuanya. Rudi disuruh membersihkan halaman belakang yang kotornya minta ampun. Ada daun-daun yang berjatuhan akibat pohon manggis yang menangis dan menanggalkan dedaunannya karena kesepian. Rudi membersihkan halaman belakang dan memangkas beberapa dahan dari pohon manggis menangis itu. Maksud hati berbuat baik agar daunnya tidak terlalu banyak berguguran. Bukan pujian yang di dapat Rudi, Pak Gusti malah memarahi Rudi atas tindakannya. Rudi pun pergi untuk menangis di bawah pohon manggis menangis.
Rudi meminta maaf kepada pohon kesepian itu. Sebagai bentuk permintaan maaf, Rudi mengambil kertas dari buku gambarnya dan mulai menggambar pohon manggis tersebut. Dalam waktu 5 menit, Rudi telah berhasil menggambar pohon manggis itu. Tapi Rudi merasa ada yang kurang. Keesokan harinya, Rudi mengajak Sandi untuk ke rumah Rudi. Mereka berencana mendiskusikan apa yang kurang dari gambaran Rudi perihal pohon manggis menangis itu. Sandi melihat gambar Rudi yang rapi itu. Terpukau mata Sandi sampai berbinar-binar, tetapi ada yang kurang di hati. Mereka berdua memikirkan hal tersebut hingga berjam-jam lamanya... Matahari lelah menanti buah hasil pikiran mereka, jadi Matahari izin pamit untuk memberi makan anak istrinya terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, Matahari menelpon Bulan untuk menggantikan dirinya menemani kedua bocah SMP itu. Bulan hadir, tapi tidak sendirian. Bulan mengajak Bintang untuk menemaninya menanti kedua bocah itu. Tak kunjung mendapatkan buah hasil pikiran, buah manggis lah yang dipetik dari pohon manggis menangis itu. Bu Rusni menyaran Sandi untuk pulang. Sudah larut malam, kasian Pak Sanji dan Bu Surni menanti kepulangan anak mereka ke rumah.
Sesampainya di rumah, Sandi menceritakan hal yang ia lalui di rumah Rudi kepada Pak Sanji dan Bu Surni. Seperti orang tua pada umumnya, Pak Sanji memegang koran sambil mengangguk-ngangguk mendengar cerita Sandi. Berbeda dengan Pak Sanji, Bu Surni malah meminta Sandi pergi ke Warung Pak Muri untuk membeli cumi. Ingin masak cumi goreng tepung rupanya. Di Warung Pak Muri, Sandi bercerita kepada Pak Muri sambil menunjukkan gambar Rudi. Pak Muri hanya memberi saran untuk menambahkan latar tempat pada gambar itu, seperti bunga dan tembok mungkin.
Di Sekolah, Sandi menceritakan saran dari Pak Muri kepada Rudi. Rudi pun mulai menggambarkan latar di sekitar gambar pohon manggis menangis itu. Tapi nasib sial kembali mengetuk pintu kelas mereka. Perbuatan Rudi dilihat oleh Pak Murni. Dimarahilah si Rudi dan Sandi untuk ke-7 kalinya. Akhirnya Pak Gusti dan Bu Rusni semakin geram melihat tingkah anaknya itu. Sejak saat itu, Rudi dilarang lagi untuk menggambar, diambillah buku gambar, pensil, dan penghapus Rudi. Pak Gusti juga menasehati si Rudi, menjadi pelukis tidak akan membuatmu kaya katanya. Tapi sebelum itu, Rudi telah menempel gambar pohon manggis menangis dengan sedikit latar itu pada batang kayu pohon manggis menangis itu.
Singkat cerita, Rudi telah menginjak kelas 2 SMA. Ia telah mengenal cinta. Rudi memiliki pacar bernama Marni. Marni memiliki hobi berkebun. Marni sangat suka bunga. Setiap hari Marni selalu bercerita tentang jenis-jenis bunga kepada Rudi. Seperti orang mabuk cinta pada umumnya, Rudi selalu sabar mendengar cerita Marni dan ikut hanyut ke dalam dunia bunga.
Suatu hari, Rudi mengajak Marni untuk menanam bunga di halaman belakang rumah Rudi. Mereka telah membeli beberapa bibit biji bunga matahari untuk ditanam. Pot-pot telah tersedia di halaman belakang rumah Rudi. Pohon manggis menangis semakin tua dan semakin menanggalkan dedaunannya. Rudi dan Marni memutuskan untuk membersihkan halaman belakang terlebih dahulu. Lalu mereka mulai menanam bibit biji bunga matahari di sekitaran pohon manggis itu. Dengan sabar Rudi menyirami dan memupuk cintanya kepada Marni dan bibit biji bunga matahari mereka.
Umur perkuliahan pun telah tiba. Rudi telah putus dengan Marni. Seperti anak SMA pada umumnya, putus karena alasan fokus belajar untuk UN dan masuk ke universitas yang diinginkan. Basi. Tapi Rudi tegar selalu. Jika rindu, Rudi sering ke halaman untuk melihat kebun bunga dan pohon manggis. Betapa indah dan tenang suasana hati Rudi setiap ke halaman belakang. Rudi ingin mencoba untuk menggambar kebun dan pohon manggis itu. Betapa indah dan menenangkan hati hasil gambaran Rudi. Meski sudah lama tak menggambar, ternyata hasilnya tetap bagus. Mungkin faktor dari indah dan berserinya kebun yang digambar. Rudi hendak menggantung hasil gambarnya di dekat pohon manggis. Ia melihat gambaran lamanya yang masi terpasang di batang pohon manggis itu. Kini ia tahu, apa yang kurang dari gambar lamanya. Ponsel Sandi pun berdering dan menunjukkan nomor yang tak dikenal.
Sesampainya di rumah, Rudi menerima hukuman dari kedua orang tuanya. Rudi disuruh membersihkan halaman belakang yang kotornya minta ampun. Ada daun-daun yang berjatuhan akibat pohon manggis yang menangis dan menanggalkan dedaunannya karena kesepian. Rudi membersihkan halaman belakang dan memangkas beberapa dahan dari pohon manggis menangis itu. Maksud hati berbuat baik agar daunnya tidak terlalu banyak berguguran. Bukan pujian yang di dapat Rudi, Pak Gusti malah memarahi Rudi atas tindakannya. Rudi pun pergi untuk menangis di bawah pohon manggis menangis.
Rudi meminta maaf kepada pohon kesepian itu. Sebagai bentuk permintaan maaf, Rudi mengambil kertas dari buku gambarnya dan mulai menggambar pohon manggis tersebut. Dalam waktu 5 menit, Rudi telah berhasil menggambar pohon manggis itu. Tapi Rudi merasa ada yang kurang. Keesokan harinya, Rudi mengajak Sandi untuk ke rumah Rudi. Mereka berencana mendiskusikan apa yang kurang dari gambaran Rudi perihal pohon manggis menangis itu. Sandi melihat gambar Rudi yang rapi itu. Terpukau mata Sandi sampai berbinar-binar, tetapi ada yang kurang di hati. Mereka berdua memikirkan hal tersebut hingga berjam-jam lamanya... Matahari lelah menanti buah hasil pikiran mereka, jadi Matahari izin pamit untuk memberi makan anak istrinya terlebih dahulu. Tapi sebelum itu, Matahari menelpon Bulan untuk menggantikan dirinya menemani kedua bocah SMP itu. Bulan hadir, tapi tidak sendirian. Bulan mengajak Bintang untuk menemaninya menanti kedua bocah itu. Tak kunjung mendapatkan buah hasil pikiran, buah manggis lah yang dipetik dari pohon manggis menangis itu. Bu Rusni menyaran Sandi untuk pulang. Sudah larut malam, kasian Pak Sanji dan Bu Surni menanti kepulangan anak mereka ke rumah.
Sesampainya di rumah, Sandi menceritakan hal yang ia lalui di rumah Rudi kepada Pak Sanji dan Bu Surni. Seperti orang tua pada umumnya, Pak Sanji memegang koran sambil mengangguk-ngangguk mendengar cerita Sandi. Berbeda dengan Pak Sanji, Bu Surni malah meminta Sandi pergi ke Warung Pak Muri untuk membeli cumi. Ingin masak cumi goreng tepung rupanya. Di Warung Pak Muri, Sandi bercerita kepada Pak Muri sambil menunjukkan gambar Rudi. Pak Muri hanya memberi saran untuk menambahkan latar tempat pada gambar itu, seperti bunga dan tembok mungkin.
Di Sekolah, Sandi menceritakan saran dari Pak Muri kepada Rudi. Rudi pun mulai menggambarkan latar di sekitar gambar pohon manggis menangis itu. Tapi nasib sial kembali mengetuk pintu kelas mereka. Perbuatan Rudi dilihat oleh Pak Murni. Dimarahilah si Rudi dan Sandi untuk ke-7 kalinya. Akhirnya Pak Gusti dan Bu Rusni semakin geram melihat tingkah anaknya itu. Sejak saat itu, Rudi dilarang lagi untuk menggambar, diambillah buku gambar, pensil, dan penghapus Rudi. Pak Gusti juga menasehati si Rudi, menjadi pelukis tidak akan membuatmu kaya katanya. Tapi sebelum itu, Rudi telah menempel gambar pohon manggis menangis dengan sedikit latar itu pada batang kayu pohon manggis menangis itu.
Singkat cerita, Rudi telah menginjak kelas 2 SMA. Ia telah mengenal cinta. Rudi memiliki pacar bernama Marni. Marni memiliki hobi berkebun. Marni sangat suka bunga. Setiap hari Marni selalu bercerita tentang jenis-jenis bunga kepada Rudi. Seperti orang mabuk cinta pada umumnya, Rudi selalu sabar mendengar cerita Marni dan ikut hanyut ke dalam dunia bunga.
Suatu hari, Rudi mengajak Marni untuk menanam bunga di halaman belakang rumah Rudi. Mereka telah membeli beberapa bibit biji bunga matahari untuk ditanam. Pot-pot telah tersedia di halaman belakang rumah Rudi. Pohon manggis menangis semakin tua dan semakin menanggalkan dedaunannya. Rudi dan Marni memutuskan untuk membersihkan halaman belakang terlebih dahulu. Lalu mereka mulai menanam bibit biji bunga matahari di sekitaran pohon manggis itu. Dengan sabar Rudi menyirami dan memupuk cintanya kepada Marni dan bibit biji bunga matahari mereka.
Umur perkuliahan pun telah tiba. Rudi telah putus dengan Marni. Seperti anak SMA pada umumnya, putus karena alasan fokus belajar untuk UN dan masuk ke universitas yang diinginkan. Basi. Tapi Rudi tegar selalu. Jika rindu, Rudi sering ke halaman untuk melihat kebun bunga dan pohon manggis. Betapa indah dan tenang suasana hati Rudi setiap ke halaman belakang. Rudi ingin mencoba untuk menggambar kebun dan pohon manggis itu. Betapa indah dan menenangkan hati hasil gambaran Rudi. Meski sudah lama tak menggambar, ternyata hasilnya tetap bagus. Mungkin faktor dari indah dan berserinya kebun yang digambar. Rudi hendak menggantung hasil gambarnya di dekat pohon manggis. Ia melihat gambaran lamanya yang masi terpasang di batang pohon manggis itu. Kini ia tahu, apa yang kurang dari gambar lamanya. Ponsel Sandi pun berdering dan menunjukkan nomor yang tak dikenal.
"Selamat siang Bos 😃
BalasHapusMohon maaf mengganggu bos ,
apa kabar nih bos kami dari Agen365
buruan gabung bersama kami,aman dan terpercaya
ayuk... daftar, main dan menangkan
Silahkan di add contact kami ya bos :)
Line : agen365
WA : +85587781483
Wechat : agen365
terimakasih bos ditunggu loh bos kedatangannya di web kami kembali bos :)"
Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
BalasHapusDalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
Yang Ada :
TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
Sekedar Nonton Bola ,
Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
Website Online 24Jam/Setiap Hariny